MANAGEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
MANAGEMEN KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
oleh: Drs. Juniman Silalahi, M.Pd.
Managemen
keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan sebagai suatu strategi
pengaturan proses dan prosedur kerja, sehingga pekerjaan yang dilakukan
dapat memberikan keselamatan, baik secara fisik dan non fisik
(lingkungannya).
Sasaran
akhir dari managemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk
mengikut sertakan seluruh pengguna workshop/bengkel serta pihak terkait
lainnya dalam usaha mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja,
serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan kondusif.
Tujuan Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
a. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
b. Menghindari kemungkinan terhambatnya proses kerja
Perlu
disadari bahwa kecelakaan kerja dapat menimbulkan kerugian berupa luka
ringan, luka berat, bahkan kematian atau kerugian moril dan material.
Bila
seseorang melakukan tugasnya dengan prosedur kerja yang baik dan benar
serta ditunjang dengan lingkungan kerja yang aman, tentu akan terhindar
dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat
pekerjaan tersebut.
Seseorang
yang bekerja dalam waktu lama pada suatu lingkungan kerja yang kurang
sehat dapat saja menderita penyakit akibat kerja. Misalnya orang yang
bekerja dalam waktu lama pada ruangan berdebu akan menderita penyakit
paru-paru berdebu. Orang yang bekerja sebagai tukang las dalam waktu
yang lama bisa menderita penyakit mata atau kebutaan.
Hakekat Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
Sesungguhnya inti dari usaha keselamatan kerja adalah berupa pengelolaan dan pengawasan terhadap unsur-unsur dalam suatu workshop/bengkel, yaitu manusia (pengguna), material, peralatan dan mesin-mesin, metode, dan lingkungan kerja.
Sumber
terbesar dari kejadian kecelakaan kerja adalah manusia. Oleh karena
itu, pengawasan terhadap manusia sebagai pengguna workshop
(siswa/mahasiswa) perlu dilakukan. Biasanya seseorang cenderung bekerja
pada aturan rendah atau jika mungkin tanpa aturan sama sekali.
Material
atau bahan-bahan praktek, bila tidak terkelola penempatannya dengan
baik juga dapat menyebabkan terjadinya kecekaan kerja. Aspek-aspek utama
masalah material atau bahan praktek yang perlu dipantau secara serius
adalah pemilihan, pengangkutan, penempatan, dan perlakuan (treatment and preparation).
Potensi kecelakaan kerja juga dapat disebabkan kegagalan fungsi mesin. Tidak tertutup kemungkinan terjadi
kecelakaan fatal karena mesin tidak dapat berfungsi dengan baik,
misalnya mesin mati secara tiba-tiba sehingga benda kerja yang ada di
dalamnya terjepit, komponen mesin terlepas, dan lain-lain.
Metode
kerja yang salah sering menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja,
misalnya menggunakan peralatan atau mesin tidak sesuai dengan fungsinya,
tidak menggunakan alat bantu pengaman saat mengoperasikan mesin (sefty), dan lain-lain.
Lingkungan
kerja yang tidak tertata dengan baik, bising, panas, dan polusi udara
dapat memicu kecelakaan kerja, karena hal ini akan mengganggu keseriusan
dan kenyamanan dalam bekerja. Oleh karena itu, lingkungan
kerja harus ditata dengan baik sehingga tercipta suasana yang kondusif.
Kondusif tidaknya suatu lingkungan kerja dapat dilihat dari pengaturan
tata letak (lay out) mesin-mesin/peralatan, kapasitas, dan fasilitas,
serta kenyamanannya.
Dengan pengelolaan dan pengawasan yang baik terhadap unsur-unsur dalam
suatu workshop/bengkel, akan dapat dipastikan tidak ada kecelakaan
manusia (pengguna), tidak ada kerusakan material, tidak ada kerusakan
mesin/peralatan, dan tidak ada kesalahan metode kerja.
Untuk dapat menganalisis kecelakaan kerja yang terjadi, menemukan penyebabnya,
dan mencegahnya terjadinya kecelakaan yang sama di lain waktu, perlu
diketahui anatomi kecelakaan kerja berikut ini.
Dikenal 4 hal pokok anatomi kecelakaan kerja, yaitu:
1. Penyebab tidak langsung atau penunjang (contributing causes)
2. Penyebab langsung (immediate causes)
3. Kecelakaan (accident)
4. Akibat kecelakaan (result of accident)
Penyebab Tidak Langsung atau Penunjang
Kecelakaan Kerja:
Faktor Penunjang
|
Bentuk Kejadian
|
Instruktur
|
Tidak hadir
Tidak melakukan tugas dengan
berbagai alasan
|
Fisik peserta didik
|
Sakit
Lelah
|
Mental peserta didik
|
Mengantuk
Mabuk
Marah, sedih, atau takut
Tidak dapat bekerja konsentrasi
penuh karena berbagai sebab
|
Berbagai
tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang dapat dijumpai ketika
berlangsungnya suatu pekerjaan dapat dilihat sebagai berikut:
Penyebab Langsung Kecelakaan Kerja:
Tindakan Tidak Aman
|
Kondisi Tidak Aman
|
1. Bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda.
2. Bekerja dalam kecepatan yang berbahaya.
3. Tidak memfungsikan pengaman mesin/alat yang dipakai.
4. Menggunakan mesin/alat yang tidak aman.
5. Penempatan bahan tidak aman.
6. Posisi kerja yang berbahaya.
7. Mengganggu orang lain yang sedang bekerja.
8. Tidak memakai alat proteksi
9. Dan lain-lain.
|
1. Mesin tanpa pengaman.
2. Alat pengaman kurang sempurna.
3. Mesin rusak atau aus.
4. Desain mesin kurang baik.
5. Tata letak mesin tidak aman.
6. Pencahayaan tidak sempurna.
7. Ventilasi tidak baik.
8. Alat proteksi diri tidak berfungsi
dengan baik.
9. Dan lain-lain.
|
Penyebab Kecelakaan Kerja:
Para ahli memperkirakan bahwa penyebab terbesar dari kecelakaan kerja di industri adalah faktor manusia (human error).
Hampir 88% kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia
(melakukan tindakan tidak aman), 10% disebabkan oleh kondisi tidak aman
dari lingkungan kerja, dan sisanya 2% disebabkan oleh hal-hal di luar
kemampuan kontrol manusia.
Kecelakaan
kerja sering terjadi disebabkan oleh keengganan dalam memakai alat
pelindung atau proteksi diri, seperti sepatu kerja, pakaian kerja, kaca
mata, masker, helm, sarung tangan, dan lain sebagainya.
Kesalahan
dalam prosedur atau posisi kerja juga dapat menimbulkan kecelakaan,
karena pada waktu kerja dengan serius sering menjadi lupa bahwa dia
dalam posisi yang berbahaya.
Mengganggu orang yang sedang bekerja juga dapat menimbulkan kecelakaan, karena kaget dan lepas kontrol.
Menggunakan alat yang salah atau tidak sesuai dengan fungsinya juga dapat menimbulkan kecelakaan.
Selain
itu, ketidaktaatan dalam penerapan aturan-aturan baku saat
mengoperasikan mesin dan ketidak-disiplinan dalam bekerja dapat
menimbulkan kecelakaan kerja.
Dari
uraian di atas jelas bahwa penyebab kecelakaan kerja yang utama berasal
dari tindakan atau perbuatan tidak aman oleh manusia (pekerja/peserta
didik) sendiri. Oleh sebab itu, instruktur sebagai orang yang
bertanggung-jawab di workshop/bengkel diharapkan senantiasa mengawasi
peserta didik selama berlangsungnya proses pembelajaran.
Pencegahan Kecelakaan Kerja:
Setiap
kecelakaan kerja selalu ada sebabnya. Oleh karena itu, tindakan koreksi
terhadap penyimpangan dari aturan keselamatan kerja harus segera
diambil agar kecelakaan tidak terjadi atau tidak terulang kembali.
Pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
1. Mendemonstrasikan
bagaimana sikap kerja yang memenuhi kaidah keselamatan kerja dengan
penekanan terhadap poin-poin penting yang harus diperhatikan oleh
peserta didik dalam bekerja di workshop/ bengkel.
2. Membuat aturan-aturan tertulis tentang aspek keselamatan kerja
3. Membuat poster atau slogan-slogan tentang keselamatan kerja.
Namun
demikian, walau telah dilakukan usaha pencegahan kecelakaan kerja,
bilamana sarana-sarana yang diperlukan tidak tersedia atau tidak ada
maka usaha tersebut tidak akan berhasil. Oleh sebab itu, pihak managemen
workshop/bengkel diharapkan dapat mencukupi ketersediaan alat-alat
keselamatan kerja sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari atau paling
tidak diminimalkan.
SEKIAN - TERIMA KASIH
No comments:
Post a Comment