Saturday, March 9, 2013

MANAGEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


MANAGEMEN KESELAMATAN DAN
KESEHATAN KERJA
oleh: Drs. Juniman Silalahi, M.Pd.

Managemen keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan sebagai suatu strategi pengaturan proses dan prosedur kerja, sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat memberikan keselamatan, baik secara fisik dan non fisik (lingkungannya).

Sasaran akhir dari managemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk mengikut sertakan seluruh pengguna workshop/bengkel serta pihak terkait lainnya dalam usaha mencegah kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan kondusif.

Tujuan Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
a.     Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
b.     Menghindari kemungkinan terhambatnya proses kerja

Perlu disadari bahwa kecelakaan kerja dapat menimbulkan kerugian berupa luka ringan, luka berat, bahkan kematian atau kerugian moril dan material.

Bila seseorang melakukan tugasnya dengan prosedur kerja yang baik dan benar serta ditunjang dengan lingkungan kerja yang aman, tentu akan terhindar dari kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat pekerjaan tersebut.

Seseorang yang bekerja dalam waktu lama pada suatu lingkungan kerja yang kurang sehat dapat saja menderita penyakit akibat kerja. Misalnya orang yang bekerja dalam waktu lama pada ruangan berdebu akan menderita penyakit paru-paru berdebu. Orang yang bekerja sebagai tukang las dalam waktu yang lama bisa menderita penyakit mata atau kebutaan.

Hakekat Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja:
Sesungguhnya inti dari usaha keselamatan kerja adalah berupa pengelolaan dan pengawasan terhadap unsur-unsur  dalam suatu workshop/bengkel, yaitu manusia (pengguna), material, peralatan dan mesin-mesin, metode, dan lingkungan kerja.
Sumber terbesar dari kejadian kecelakaan kerja adalah manusia. Oleh karena itu, pengawasan terhadap manusia sebagai pengguna workshop (siswa/mahasiswa) perlu dilakukan. Biasanya seseorang cenderung bekerja pada aturan rendah atau jika mungkin tanpa aturan sama sekali.

Material atau bahan-bahan praktek, bila tidak terkelola penempatannya dengan baik juga dapat menyebabkan terjadinya kecekaan kerja. Aspek-aspek utama masalah material atau bahan praktek yang perlu dipantau secara serius adalah pemilihan, pengangkutan, penempatan, dan perlakuan (treatment and preparation). 

Potensi kecelakaan kerja juga dapat disebabkan kegagalan fungsi mesin. Tidak tertutup kemungkinan  terjadi kecelakaan fatal karena mesin tidak dapat berfungsi dengan baik, misalnya mesin mati secara tiba-tiba sehingga benda kerja yang ada di dalamnya terjepit, komponen mesin terlepas, dan lain-lain.

Metode kerja yang salah sering menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja, misalnya menggunakan peralatan atau mesin tidak sesuai dengan fungsinya, tidak menggunakan alat bantu pengaman saat mengoperasikan mesin (sefty), dan lain-lain.

Lingkungan kerja yang tidak tertata dengan baik, bising, panas, dan polusi udara dapat memicu kecelakaan kerja, karena hal ini akan mengganggu keseriusan dan kenyamanan dalam bekerja.  Oleh karena itu, lingkungan kerja harus ditata dengan baik sehingga tercipta suasana yang kondusif. Kondusif tidaknya suatu lingkungan kerja dapat dilihat dari pengaturan tata letak (lay out) mesin-mesin/peralatan, kapasitas, dan fasilitas, serta kenyamanannya.

Dengan pengelolaan dan pengawasan yang baik terhadap unsur-unsur  dalam suatu workshop/bengkel, akan dapat dipastikan tidak ada kecelakaan manusia (pengguna), tidak ada kerusakan material, tidak ada kerusakan mesin/peralatan, dan tidak ada kesalahan metode kerja.

     Untuk dapat menganalisis kecelakaan kerja yang terjadi, menemukan   penyebabnya, dan mencegahnya terjadinya kecelakaan yang sama di lain waktu, perlu diketahui anatomi kecelakaan kerja berikut ini.

Dikenal 4 hal pokok anatomi kecelakaan kerja, yaitu:
1.     Penyebab tidak langsung atau penunjang (contributing causes)
2.     Penyebab langsung (immediate causes)
3.     Kecelakaan (accident)
4.     Akibat kecelakaan (result of accident)
                     
Penyebab Tidak Langsung atau Penunjang
Kecelakaan Kerja:
Faktor Penunjang
Bentuk Kejadian
Instruktur
Tidak hadir
Tidak melakukan tugas dengan
berbagai alasan
Fisik peserta didik
Sakit
Lelah
Mental peserta didik
Mengantuk
Mabuk
Marah, sedih, atau takut
Tidak dapat bekerja konsentrasi
penuh karena berbagai sebab


Berbagai tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman yang dapat dijumpai ketika berlangsungnya suatu pekerjaan dapat dilihat sebagai berikut:

Penyebab Langsung Kecelakaan Kerja:

Tindakan Tidak Aman
Kondisi Tidak Aman
1.   Bekerja tanpa memperhatikan tanda-tanda.
2.   Bekerja dalam kecepatan yang berbahaya.
3.   Tidak memfungsikan pengaman mesin/alat yang dipakai.
4.   Menggunakan mesin/alat yang tidak aman.
5.   Penempatan bahan tidak aman.
6.   Posisi kerja yang berbahaya.
7.   Mengganggu orang lain yang sedang bekerja.
8.   Tidak memakai alat proteksi
9.   Dan lain-lain.
1.   Mesin tanpa pengaman.
2.   Alat pengaman kurang sempurna.
3.   Mesin rusak atau aus.
4.   Desain mesin kurang baik.
5.   Tata letak mesin tidak aman.
6.   Pencahayaan tidak sempurna.
7.   Ventilasi tidak baik.
8.   Alat proteksi diri tidak berfungsi
    dengan baik.
9.   Dan lain-lain.


Penyebab Kecelakaan Kerja:
Para ahli memperkirakan bahwa penyebab terbesar dari kecelakaan kerja di industri adalah faktor manusia (human error). Hampir 88% kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia (melakukan tindakan tidak aman), 10% disebabkan oleh kondisi tidak aman dari lingkungan kerja, dan sisanya 2% disebabkan oleh hal-hal di luar kemampuan kontrol manusia.

Kecelakaan kerja sering terjadi disebabkan oleh keengganan dalam memakai alat pelindung atau proteksi diri, seperti sepatu kerja, pakaian kerja, kaca mata, masker, helm, sarung tangan, dan lain sebagainya.

Kesalahan dalam prosedur atau posisi kerja juga dapat menimbulkan kecelakaan, karena pada waktu kerja dengan serius sering menjadi lupa bahwa dia dalam posisi yang berbahaya.

Mengganggu orang yang sedang bekerja juga dapat menimbulkan kecelakaan, karena kaget dan lepas kontrol.

Menggunakan alat yang salah atau tidak sesuai dengan fungsinya juga dapat menimbulkan kecelakaan.

Selain itu, ketidaktaatan dalam penerapan aturan-aturan baku saat mengoperasikan mesin dan ketidak-disiplinan dalam bekerja dapat menimbulkan kecelakaan kerja.

Dari uraian di atas jelas bahwa penyebab kecelakaan kerja yang utama berasal dari tindakan atau perbuatan tidak aman oleh manusia (pekerja/peserta didik) sendiri. Oleh sebab itu, instruktur sebagai orang yang bertanggung-jawab di workshop/bengkel diharapkan senantiasa mengawasi peserta didik selama berlangsungnya proses pembelajaran.


Pencegahan Kecelakaan Kerja:
Setiap kecelakaan kerja selalu ada sebabnya. Oleh karena itu, tindakan koreksi terhadap penyimpangan dari aturan keselamatan kerja harus segera diambil agar kecelakaan tidak terjadi atau tidak terulang kembali.

Pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:
1.     Mendemonstrasikan bagaimana sikap kerja yang memenuhi kaidah keselamatan kerja dengan penekanan terhadap poin-poin penting yang harus diperhatikan oleh peserta didik dalam bekerja di workshop/ bengkel.
2.     Membuat aturan-aturan tertulis tentang aspek keselamatan kerja
3.     Membuat poster atau slogan-slogan tentang keselamatan kerja.  

Namun demikian, walau telah dilakukan usaha pencegahan kecelakaan kerja, bilamana sarana-sarana yang diperlukan tidak tersedia atau tidak ada maka usaha tersebut tidak akan berhasil. Oleh sebab itu, pihak managemen workshop/bengkel diharapkan dapat mencukupi ketersediaan alat-alat keselamatan kerja sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari atau paling tidak diminimalkan.


                                  SEKIAN -  TERIMA KASIH

No comments:

Post a Comment